Inglewood – Kanada melangkah maju ke babak 16 besar World Cup 2026 setelah menaklukkan Afrika Selatan 1-0 di SoFi Stadium dalam laga pembuka putaran ketiga, Minggu (28/6). Gol tunggal Stephen Eustáquio di menit 90+2 memecah kebuntuan pertandingan yang sebaliknya sangat defensif dan tersusun rapi dari kedua belah pihak.
Pertandingan yang berlangsung di Los Angeles itu menjadi duel bersejarah—merupakan pertemuan pertama kali kedua negara pada panggung Piala Dunia, sekaligus upaya pertama mereka menembus fase knockout. Meski Kanada berhasil meraih tiket melanjutkan, cara mereka meraih kemenangan mengungkap sebuah kisah taktis yang lebih rumit. Afrika Selatan menguasai bola 58 persen, namun tidak mampu mengubah dominasi itu menjadi peluang sungguhan. Kanada, sebaliknya, bermain dengan efisiensi: mengeluarkan 12 tembakan dengan 7 di antaranya mengenai sasaran, sementara Afrika Selatan hanya 6 tembakan dengan 1 sasaran.

Model prediksi awal telah memberikan sinyal kuat terhadap Kanada. Dengan persentase kemenangan 54 persen banding 18 persen untuk Afrika Selatan dan imbang 28 persen, analis menempatkan potensi skor 0-1—tepat apa yang terjadi di akhir pertandingan. Kepercayaan pada prediksi itu mencapai 72 persen, mencerminkan pola performa kedua tim dalam periode preparasi Piala Dunia.
Jalannya Pertandingan
Babak pertama berlalu relatif tertutup dengan kedua tim lebih fokus pada organisasi defensif. Afrika Selatan berusaha membangun permainan dari belakang dengan tempo lambat, sementara Kanada mengatur pressing intensitas menengah untuk merampas bola di zona transisi. Tidak ada kesempatan besar tercipta di 45 menit pertama; lini pertahanan Afrika Selatan tetap kokoh. Pelatih Hugo Broos tampaknya memprioritaskan soliditas daripada ambisi ofensif, strategi yang terlihat efektif dalam mengekang serangan Kanada meski visitur itu terus mencoba.
Babak kedua membawa perubahan. Broos melakukan tiga pergantian di menit ke-46, 86, dan 86 lagi—manuver yang mengindikasikan upaya taktis untuk menambah momentum, meski eksekusinya tidak menghasilkan terobosan nyata. Afrika Selatan tetap tanpa tembakan pada sasaran hingga peluit akhir. Kanada, sementara itu, terus meningkatkan tekanan. Mereka merubah skuad berkali-kali (lima pergantian) sejak menit ke-59, mengisyaratkan rotasi pemain bukan hanya karena cedera melainkan manajemen energi menjelang pertemuan berikutnya. Momentum berubah drastis saat memasuki masa tambahan. Di menit 90+2, Eustáquio—yang ditampilkan sejak awal dan mencatat rating tertinggi 8.6—mengeksekusi kesempatan sempit dengan sempurna, menggebrak gawang Ronwen Williams yang sebelumnya mampu menahan serangan dengan rating 8.3. Gol itu memecahkan neraka pertandingan dan mengantarkan Kanada melampaui garis selesai.

Catatan kartu kuning dipegang Kanada: dua peringatan untuk Nathan-Dylan Saliba (menit 54) dan Niko Sigur (menit 67). Afrika Selatan lolos tanpa peringatan resmi, mencerminkan permainan mereka yang lebih tertib meski kurang efektif.
Performa individu memperlihatkan kontras. Eustáquio dengan dua tembakan (satu on target) dan gol akhirnya menjadi pemain terbaik malam itu. Di sisi Afrika Selatan, Aubrey Modiba mencuri rating 7.6 dengan pertahanan yang solid. Williams, meskipun tersingkir pada akhirnya, menampilkan standar penjaga gawang kelas satu dengan menyelamatkan serangan berkali-kali.
Analisis bentuk terkini kedua tim sebelum laga menunjukkan Kanada lebih tajam masuk pertandingan. Dalam lima pertandingan terakhir, skuad anak asuh Jesse Marsch mencatatkan 2 kemenangan, 2 seri, dan 1 kekalahan, dengan Jonathan David telah mencetak 3 gol. Afrika Selatan sebaliknya, dengan 1 kemenangan, 3 seri, dan 1 kekalahan, menunjukkan stabilitas defensif namun kurang garang di depan. Data ini, ditambah penguasaan bola Afrika Selatan yang tidak tergandakan menjadi gol, menceritakan cerita khas turnamen modern: dominasi bukan jaminan kemenangan. Kanada, dengan 42 persen bola, buktikan bahwa efisiensi dan eksekusi finishing pada saat-saat krusial lebih berguna daripada kontrol.
Dengan kemenangan ini, Kanada mengamankan posisi sebagai pemenang grup atau runner-up, melanjutkan ke babak 16 besar sebagai tim pertama dari grup mereka. Afrika Selatan, terlepas dari penampilan layak, harus pulang tanpa lanjut putaran setelah pertandingan pertama—sebuah kesempatan bersejarah hilang di menit terakhir.